Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Yen Ambruk karena Kinerja BOJ Lamban, Ini Pendapat para Ahli

Yen Ambruk karena Kinerja BOJ Lamban, Ini Pendapat para Ahli

by Didimax Team

Pada perdagangan sesi Eropa pekan lalu, Dolar ditutup dengan kenaikan tipis. Begitu juga dengan Euro yang berhasil naik karena EBC berspekulasi dengan menaikkan suku bunga. Kondisi berbeda terjadi pada jatuhnya mata uang Jepang.
 
Hal ini memancing para ekonom kelas dunia untuk turut berkomentar. Terlebih, saat ini diperkirakan tingkat inflasi akan meningkat lebih tinggi, sehingga beberapa mata uang yang riskan akan turut menurun. 
 
Selain itu, ekonom juga menyoroti kinerja BOJ yang dinilai lamban. Lambannya kinerja tersebut membuat para ahli berasumsi bahwa BOJ menjadi salah satu faktor jatuhnya harga Yen. Termasuk penurunan nilai ekspor.
 
 
 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Yen

 
Yen merupakan salah satu mata uang utama di sesi perdagangan Asia. Mata uang tersebut banyak mempengaruhi aktivitas ekspor dan impor. Hal ini juga berdampak pada pendapatan nasional negara tersebut.
 
Terlebih saat ini Yen menurun hingga 2 dekade. Setelah 24 tahun berlalu, akhirnya ambruk juga, Beberapa faktor sangat mempengaruhi penurunannya. Salah satunya dari laju perekonomian global tidak stabil. 
 
Sebetulnya, beberapa faktor mempengaruhi pergerakannya pada saat ini, sehingga nilainya berada pada posisi level terendah 2 dekade. Bahkan saat ini melemah 18% terhadap Dolar. Berikut ini beberapa faktor penyebabnya:
 
1. Kinerja BOJ Lamban
 
Faktor ini berdampak besar terhadap penurunan Yen yaitu BOJ itu sendiri. BOJ bergerak lamban dalam membuat kebijakan terhadap pergerakannya. Sikapnya tersebut membuatnya kehilangan peranannya sebagai mata uang utama. 
 
Kebijakan tersebut dinilai Dovish dan keluar dari jalur yang benar. Dengan demikian, Yen berada pada posisi Hawkishness salah arah. Hal ini membuat Yen bergerak lamban sehingga nilainya terus menurun.
 
2. Longgarnya Kebijakan Moneter
 
Laju inflasi semakin tinggi tinggi, berdampak pada perubahan nilai mata uang. Hal ini bisa memperburuk pergerakan Yen. BOJ dinilai tidak proaktif karena pengaruh arus pergerakan mata uang Greenback dan Euro semakin meningkat. Hal tersebut berdampak besar pada pergerakan Yen. 
 
Kenaikan mata uang Greenback dan Euro merupakan salah satu bukti bahwa kinerja EBC dan the Fed sangat bagus. Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan BOJ yang tidak memiliki kekuatan. 
 
3. Sentimen Risiko Imbal Hasil Obligasi Rendah
 
Pengaruh imbal hasil obligasi bernilai nol karena BOJ tidak bertindak tegas terhadap pergerakan Yen. Terlebih Yen berada pada posisi terjepit serta kehilangan nilai sebagai mata uang utama di sesi Asia. 
 
Hal tersebut sangat merugikan. Terlebih, Yen juga harus kehilangan nilainya sebagai uang pendukung aktivitas ekspor impor. Tidak bisa dipungkiri, nilai ekspor terus menurun karena pengaruh risiko imbal hasil obligasi Jepang sangat rendah. 
 
Ini Pendapat Ahli Mengenai Pergerakan Yen Saat Ini
 
Nilai Yen yang semakin melemah akan berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi negara sakura ini. Maka dari itu, beberapa ahli mengungkapkan Argumentasinya karena menyoroti nilai Yen yang semakin kritis. 
 
Salah satu argumentasi mengenai pergerakan mata uang negeri sakura diungkapkan oleh Ekonom global. Kondisi Ekonomi tersebut berada di Mizuho sehingga sangat mengetahui pergerakan mata uang tersebut. 
 
Ekonomi mengungkapkan pendapatnya untuk pergerakan mata uang tersebut semakin melemah terhadap Dolar. Padahal Dolar berhasil mencapai 135, 60 dan diprediksi akan terus naik, hingga mencapaI 136. 
 
Sesi mata uang lain, mengungkapkan bahwa nilai Dolar tersebut berada pada titik 105,00 sehingga presiden Fed mengusulkan untuk kenaikan suku bunga yang berada pada basis poin 50 hingga 75. 
 
 
Hal tersebut bertujuan sebagai persiapan untuk melawan laju inflasi yang semakin cepat.  Lain halnya dengan ketua the Fed yang menyatakan bahwa kenaikan basis poin tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi. 
 
Di sisi lain, ECB memberikan prediksi akan terjadi tumpang tindih pada mata uang utama dan membuat nilai mata uang dari negeri Sakura kini semakin terjerembab jatuh hingga level terendah. 
 
Pandangan lain diungkapkan oleh perdana menteri Jepang mengenai kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh BOJ. Fumio Kishida memberikan kebebasan kepada BOJ mengenai kebijakan yang dibuat oleh BOJ. 
 
Bahkan Fumio Kishida memutuskan untuk menjual YEN, demi mempertahankan kebijakan yang dikeluarkan BOJ. Hal itu merupakan sebuah keputusan yang menyimpang dari peraturan hawkins yang dikeluarkan bank tersebut. 
 
Perdagangan sesi Asia kembali bergejolak sejak penurunan YEN. Terlebih mata uang itu berada pada posisi yang terjepit di antara kenaikan nilai tukar Dolar dan Euro. Hal tersebut sangat merugikan Jepang. 

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama