Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Sentimen Manufaktur Menyeret Euro ke Data Suram

Sentimen Manufaktur Menyeret Euro ke Data Suram

by Didimax Team

Gejolak pasar keuangan berpengaruh besar pada pergerakan beberapa mata uang. Salah satunya adalah Euro, yang terseret oleh data manufaktur suram. Padahal, Euro baru saja pulih dari penurunannya beberapa pekan lalu.
 
Pada perdagangan sesi Eropa 2 pekan lalu, Euro berhasil naik karena ada dukungan dari ECB. Hal tersebut membuat perekonomian Eropa membaik. Bahkan inflasi Euro masih terbilang netral dan belum mencapai puncaknya. 
 
Namun, Euro kembali tergelincir pada perdagangan hari Kamis kemarin. Hal itu terjadi karena adanya pelemahan IMP di Perancis dan Swiss.  Hal tersebut bukti bahwa perekonomian zona Eropa sedang tidak stabil.
 

Kronologi Terseretnya Euro ke Data Manufaktur Suram

 
Nilai Euro terus membaik selama beberapa pekan. Namun, Perancis dan Swiss memiliki IMP data yang lemah. Hal ini merupakan salah satu pemicu terjadinya tergelincirnya Euro di pasar keuangan.  
 
Kenaikan nilai Euro mendorong indeks manajer pembelian untuk manufaktur S&P global berada pada titik terendah 2 tahun. Hal itu juga menjadi sinyal bahwa permintaan barang-barang manufaktur turun, sehingga Euro terseret ke posisi suram untuk manufaktur. 
 
Di sisi lain, Dolar menjalankan peranannya sebagai safe haven membuatnya memiliki keleluasaan  membuat  kebijakan. Terlebih ketua the Fed akan membuat kesaksian pada parlemen terhadap kenaikan suku bunga Dolar. 
 
Sementara itu, indeks manajer pembelian (IMP) di Amerika Serikat berada pada level 51,2 yang berarti turun pada bulan Juni ini dari angka sebelumnya yaitu 53,2 pada bulan Mei. 
 
Pergerakan tersebut terjadi karena nilai Dolar semakin kuat. Hal itu dipicu karena tingginya permintaan aset safe haven  yang meningkat. Selain itu, indeks pesanan komposit kilat berada pada titik 47,4. 
 
IMP di Amerika Serikat berada pada titik kisaran 50 yang berarti pertumbuhan untuk sektor swasta bertambah. Dengan demikian, Euro melemah terhadap Dolar sebesar 0,5%.
 
Euro berada pada posisi $1,0509 terhadap Dolar AS, sebelumnya berada pada level kunci yaitu $1,05. Selain itu, Euro juga melemah terhadap Yen, yaitu berada pada 141,85 Yen. 
 
Berdasarkan hal tersebut, Euro berada pada titik terendah, yang merupakan sebuah kerugian terhadap Dolar. Hal ini menjadi pemicu posisi Dolar membaik menuju ke arah positif.
 

Ini Prediksi Beberapa Ekonomi karena Pergerakan Euro

 
Berdasarkan penjelasan sebelumnya karena posisi Euro, sedang diambang kerugian, maka beberapa ekonom mengutarakan argumentasinya serta memberikan pandangan yang akan terjadi pada hari ini hingga masa mendatang.
 
Selain pendapat datang dari ekonom, analis ECB dan BOE mengungkapkan pandangannya akan terjadinya peningkatan terhadap basis poin menjadi 75 basis poin. Hal ini juga diperkuat dengan kondisi pasar keuangan yang melonggarkan jalur pengetatan yang dapat merusak pertumbuhan. 
 
Beberapa ekonom dan analis memprediksi akan terjadinya pergerakan pasar mata uang yang bergejolak. Hal itu, membuat pasar uang tidak stabil. Berikut ini pendapat ekonom dan pihak lain yang berpengaruh besar terhadap pergerakan Euro:
 
1. Ketua the Fed, Jerome Powell
 
Kecenderungan pasar akan terjadinya peningkatan suku bunga Dolar sehingga membuat Euro menurun, diprediksi oleh Jerome Powell. Bahkan ketua the FED ini bersaksi di depan Dewan Perwakilan Rakyat. 
 
Jerome memprediksi akan terjadinya inflasi, setelah sebelumnya mengungkapkan bahwa resesi adalah kemungkinan yang pasti terjadi. Maka dari itu, harus memantau pengetatan kemungkinan pertumbuhan serta memerangi inflasi.
 
Pergerakan inflasi akan menguat serta memangkas suku bunga mata uang lainnya. Dengan demikian, beberapa mata uang utama akan melemah. Salah satunya adalah pergerakan Euro yang melemah. 
 
2. Ekonom Pasar
 
Pendapat lain datang dari ekonom pasar di Capital Economics, yang mengungkapkan bahwa Dolar akan menguat bila didorong dengan faktor global. Hal ini juga bisa menyelamatkan mata uang utama dalam the Greenback. 
 
Hal ini juga mendorong the FED serta bank Sentral dari negara lain untuk bergerak lebih agresif di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Terlebih sejak terjadinya perang antara Rusia dan Ukraina, membuat pertumbuhan wall street turun hingga 20%. 
 
Hal tersebut juga mempengaruhi indeks dolar meningkat lebih dari 9%. Dengan demikian, pasar tenaga kerja di Amerika tetap ketat meskipun terjadi perlambatan. Angka pengangguran di AS juga menurun. 
 
Beberapa kejadian global mempengaruhi pergerakan mata uang. Salah satunya adalah Euro berhasil menguat pada pekan lalu dan kembali tergelincir pada perdagangan Kamis kemarin yaitu 24 Juni 2022 karena sentimen manufaktur.

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama