Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Nilai Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS di Posisi Melemah

Nilai Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS di Posisi Melemah

by Didimax Team

Nilai mata uang rupiah kini mulai bangkit setelah melemah beberapa waktu. Rupiah berhasil menguat hingga 23 poin terhadap Dolar Amerika Serikat sehingga membuatnya berada di angka 14.828.

Sebelum itu, rupiah sempat juga mengalami penguatan hingga 51 poin yang membuatnya berada di level Rp 14.812. Angka tersebut berhasil diraih dari penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 14.836.

Hal ini juga dikomentari oleh Ibrahim Assuaibi yang merupakan Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka. Menurutnya, kondisi perdagangan rupiah hari ini kemungkinan akan dibuka secara fluktuatif.

Akan tetapi, kemungkinan besar akan ditutup pada penguatan tipis di angka Rp 14.790 hingga Rp 14.840. Bersamaan dengan meningkatnya nilai rupiah, dolar melemah terhadap sejumlah mata uang lainnya.

Hal ini dikarenakan dari investor mulai mengawasi terkait sikap dari bank sentral utama yang mengekang inflasi. Kondisi ini mempengaruhi beberapa perdagangan mata uang dunia, terutama mata uang utama.

 

Nilai Rupiah Bangkit

Kondisi ini juga disampaikan oleh Shinuichi Suzuki yang merupakan Menteri Keuangan Jepang. Shinuichi mengatakan bahwa sebelumnya di hari Selasa ia khawatir terkait pelemahan tajam yang dialami Yen.

Menurutnya kemungkinan pelemahan Yen akan merespon dengan tepat tentang pergerakan pasar pertukaran jika diperlukan. Tentunya kondisi ini bisa mempengaruhi beberapa perdagangan mata uang utama dunia.

Sementara itu, China juga melihat bahwa Covid-19 mulai berkobar di beberapa kota yaitu Shenzhen. Kondisi ini memicu kekhawatiran tentang jalur pemulihan yang tidak pasti di dua negara besar itu.

Kondisi ini membuat Pengamat Forex juga ikut berkomentar lebih lanjut. Menurut para pengamat bahwa bank sentral utama mengambil tindakan untuk menjinakkan inflasi dalam kondisi seperti ini.

Selain itu, adanya kondisi menaikkan suku bunga membuat kekhawatiran investor semakin meningkat. Kekhawatiran ini terkait dengan pelambatan pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi berbagai belahan dunia.

Tidak hanya itu, St. Louis Fed President James “Jim” Bullard juga ikut memperingati terkait ekspektasi inflasi. Menurutnya inflasi bisa menjadi tidak tertambat jika tidak ada tindakan dari Fed yang kredibel.

Selain itu, mantan Menteri Keuangan bernama Lawrence Summers juga ikut menyarankan terkait kondisi ini. Ia menyarankan untuk melawan tekanan harga AS untuk mengembalikan ke kondisi normal.

Menurutnya tingkat pengangguran perlu naik sekitar 5 persen untuk periode berkelanjutan. Sementara itu, Jerome Powell yang merupakan Ketua Federal Reserve akan beraksi di depan senat dan DPR. 

Presiden Bank Sentral Eropa bernama Christine Lagarde berkomentar bahwa para pejabat akan menaikkan suku bunga di bulan Juli dan September. Hal ini dilakukan meskipun ada kekhawatiran atas ketegangan pasar uang.

Dolar AS Mulai Tumbang 

Sementara itu, dari dalam negeri pelaku pasar mengapresiasi kinerja Pemerintah tentang hutang luar negeri. Dimana hutang dalam negeri yang sudah mulai menyusut di tengah banyak negara diambang kebangkrutan.

Kebangkrutan ini terjadi akibat konflik dari Rusia dan Ukraina yang berkepanjangan membuat harga komoditas melonjak. Dengan adanya lonjakan ini maka Indonesia mendapatkan keuntungan dan berkah.

Kondisi ini berimbas pada utang pemerintah yang semakin sehat. Hal ini disebabkan oleh penurunan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang memberikan dampak cukup tinggi.

Ibrahim menambahkan bahwa hal ini menjadi kabar baik karena ke depannya risiko akan melonjaknya utang menjadi sangat tinggi. Selain itu, rasio utang terhadap PDB saat ini mencapai 39 persen.

Kondisi lain menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 yang sudah mulai memasuki tahun ketiga. Akan tetapi, masih banyak negara yang mengalami defisit sangat dalam di beberapa sektor kehidupannya.

Kondisi ini berkaitan dengan peningkatan utang publik untuk negaranya. Dimana, beberapa negara memiliki rasio utang yang sudah mencapai di atas 60 persen dan ada yang mencapai hingga 80 persen.

Karena hal itulah mereka memiliki rasio utang yang dramatis terhadap PDB. Sementara itu, untuk negara dengan penghasilan rendah sangat rentan situasinya menjadi tidak berkelanjutan dengan lancar.

Karena hal itulah pimpinan Presidensi G20 mengupayakan untuk menyinkronkan kerangka kebijakan. Serta diskusi bersama negara G20 untuk menemukan solusi bagi negara berpenghasilan rendah yang terlilit utang.

Posisi rupiah terhadap euro berada di angka 15.655. Sementara itu, rupiah terhadap poundsterling berada di angka 18.178 yang menunjukkan kondisi rupiah masih belum begitu stabil di beberapa mata uang. 


  

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama