Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Kondisi Rupiah Melemah, Analis Prediksi BI Rate Segera Naik

Kondisi Rupiah Melemah, Analis Prediksi BI Rate Segera Naik

by Didimax Team

Kondisi nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS kembali melemah hingga mencapai 11 point. Kondisi ini terjadi pada perdagangan di hari pertama minggu ini yaitu Senin pada perdagangan sore harinya.

Sebelum perdagangan di minggu pertama, nilai rupiah sempat melemah sebesar 15 point. Pelemahan tersebut membuat rupiah berada di level Rp 14.836 dari penutupan sebelumnya sebesar Rp 14.824.

Kondisi ini membuat Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka bernama Ibrahim Assuaibi ikut berkomentar. Menurutnya untuk perdagangan hari ini kemungkinan mata uang dibuka berfluktuatif karena kondisi hari sebelumnya.

Akan tetapi, kemungkinan besar perdagangan rupiah hari ini akan ditutup pada angka Rp 14.820 hingga Rp 14.870. Kondisi ini membuat semakin melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS.

Menurut Ibrahim dolar AS mengalami pelemahan sejenak untuk menarik napas. Hal ini terjadi setelah menghadapi minggu bergejolak karena mundur tajam dari kondisi dua dekade terhadap mata uang utama.

 

Kondisi Rupiah Melemah

Kondisi dolar AS yang melemah sudah mulai pulih hingga setengahnya pada perdagangan terakhir minggu lalu. Hal ini disebabkan karena para investor menilai prospek kebijakan moneter AS.

Selain itu, juga disebabkan oleh risiko resesi yang menyusul kenaikan suku bunga terbesar Federal Reserve sejak tahun 1995. BOJ sendiri melawan gelombang pengetatan yang mencakup Fed, Bank of England.

Tidak hanya itu, kenaikan setengah poin juga mengejutkan dari Swiss National Bank. Selain itu, adanya penolakan serangan dari spekulan pasar obligasi juga memberikan pengaruh terhadap pelemahan nilai rupiah.

Hal ini terkait dengan kondisi menguji komitmen otoritas moneter terhadap toleransi 25 basis poin. Selain itu, hingga mencapai target 0 persen untuk imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun.

Kondisi ini membuat bank sentral utama memperketat kebijakan moneter pada pekan lalu dengan adanya kenaikan suku bunga. Federal Reserve juga memutuskan untuk menaikkan suku bunga hingga 75 basis poin.

Hal ini dilakukan sejak tahun 1994 meskipun risiko resesi meningkat sangatlah mungkin. Akan tetapi, Swiss National Bank juga bergerak untuk menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin.

Sedangkan, Bank of England mengikuti untuk menaikkan suku bunga hingga mencapai 1,25 persen. The Fed berjanji untuk menjinakkan inflasi tanpa adanya syarat apapun agar kondisi segera membaik.

Akan tetapi Gubernur Fed Christopher Waller akan mendukung adanya kenaikan hingga 75 basis poin di bulan Juli. Presiden Joe Biden juga mempertimbangkan kenaikan beberapa tarif di China.

Beberapa Faktor Penyebabnya 

Terkait kondisi rupiah yang mulai melemah, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan. Ibrahim menambahkan bahwa pemerintah dan bank Indonesia perlu mewaspadai adanya kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS.

Kenaikan ini sebesar 75 poin hingga menjadi 1,5 sampai 1,75 persen pada minggu lalu. Angka tersebut jika terjadi akan memberikan dampak pada pelemahan mata uang rupiah.

Jika terjadi kenaikan suku bunga tersebut, maka arus modal asing akan kembali keluar di pasar surat utang. Hal ini dikarenakan spread antara yield SBN dan yield treasury juga semakin menyempit.

Sementara itu, menurut survei pemantauan harga Bank Indonesia yang dilakukan pada minggu ketiga Juni, inflasi meningkat hingga 0.43 persen mom atau sekitar 4.8 persen yoy.

Adanya kenaikan tersebut disebabkan oleh fenomena La Nina yang membuat sejumlah bahan pangan melambung tinggi. Beberapa bahan pangan yang melambung tinggi seperti cabai rawit, capai dan bawang merah.

Untuk mengatasi masalah ini, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah. Selain itu juga melakukan koordinasi dengan otoritas terkait dan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Selain itu, juga berkoordinasi dengan sistem keuangan untuk mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut. Inflasi semakin bertambah dengan danya pelemahan Rupiah dan memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga lebih awal.

BI rencananya menaikkan suku bunga hingga 25bps hingga 3,25 persen pada bulan ini. Akan tetapi, kondisi yang cukup buruk membuat BI harus menaikkan suku bunga hingga 50bps sebesar 4 persen.

Menurut Samuel Sekuritas, kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh BI tergantung sentimen investor asing. Terutama terkai arus keluar modal asing yang berlangsung semakin melemah terhadap nilai tukar rupiah.

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama