Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Jatuhnya Dolar Australia Terhadap Dolar Amerika Serikat Akibat RBA

Jatuhnya Dolar Australia Terhadap Dolar Amerika Serikat Akibat RBA

by Didimax Team

Wabah corona virus memberikan dampak yang begitu besar bagi pasar global. Bukan hanya dari segi kesehatan saja namun, dari segi keuangan dan ekonominya terbukti mampu menggeser beberapa kurs mata uang. Ada yang semakin tertekan da nada juga yang naik dengan begitu nyaman.

Salah satu yang terkena dampak corona virus ini adalah dolar Australia. Dolar Australia jatuh terhadap dolar Amerika Serikat setelah adanya pemangkasan pertumbuhan 2020 yang dilakukan oleh Reserve bank of Australia (RBA) baru-baru ini. Pasangan mata uang AUD/USD telah kehilangan sebanyak 0.2% ke angka 0,6716.

 

 

Titik Pemangkasan Akibat RBA

Seperti yang dinyatakan dalam pernyataan terkait kebijakan moneter yang baru saja dirilis tadi pagi Jumat (7/2), RBA telah memangkas perhitungan pertumbuhan PDB pada Juni 2020. Pemangkasan ini menjadikan angka 1,9% yang semula berasal dari 2,6% dan rencananya pemangkasan ini akan berlanjut hingga Desember mendatang.

Perkiraan pemangkasan pada Desember sendiri berada pada angka 2,7% dari yang awalnya 2,8%. Berdasarkan pemangkasan ini, maka dapat diperkirakan pada Juni hingga Desember 2021 akan terjadi pemangkasan yang lebih besar yakni 3,1% dari awalnya 3%.

Di sisi lain, peningkatan nilai mata uang dan juga indeks dolar tengah terjadi pada Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan terdapat peningkatan yang tajam permintaan aset dan investor di Amerika Serikat. Kini, Indeks dolar AS tengah berada di 98,340 dan masih ditunggu rilis terbaru oleh para pelaku pasar global.

Berdasarkan laporan juru bicara Gedung Putih, Judd Deere, Reuters mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengadakan pembicaraan bersama Presiden China Xi Jinping hari Kamis lalu (6/2). Pimpinan ini kemudian menyepakati akan melanjutkan komunikasi dan juga kerja sama antara kedua belah pihak secara meluas.

Bukan hanya kesepakatan kerja sama saja, karena mereka juga kembali menegaskan akan mengimplementasikan Fase 1 atas kesepakatan dagang yang sebelunya dibuat antara Amerika Serikat dengan China. China juga mengatakan akan segera mengurangi tarif impor AS sebagai bagian mematuhi perjanjian tersebut.

Di sisi lain juga disebutkan bahwa bank central China Peoples Bank of China mengatakan telah melakukan pemantauan mengenai dampak ekonomi yang disebabkan oleh wabah corona virus. Namun, seperti yang diketahui bank ini memiliki banyak kebijakan yang bisa digunakan untuk mengurangi tekanan.

Dampak corona virus tak hanya menggeser mata uang saja namun, mampu menggeser ekonomi China pada kuartal pertama. Namun, hal tersebut dapat pulih setelah virus terkendalikan. Hal ini disampaikan oleh Wakil Gubernur Pan Gongsheng di sebuah konferensi pers pada hari Jumat (7/2).

Berdasarkan data yang ada, penyebaran wabah corona virus ke berbagai Negara dunia telah merenggut 636 nyawa. Selain itu, terdapat sebanyak 3.143 kasus yang baru saja dikonfirmasi pada hari Kamis (6/2) lalu sehingga total korban corona virus yang meluas akhirnya menjadi 31.161.

Sementara di sisi lain, pasangan EUR/USD tidak mengalami perubahan. Pasangan ini masih berada di angka 1,0981. Hal ini dikarenakan Gubernur Bank Sentral Eropa yang memperkuat harapan terkait langkah-langkah moneter longgar akan tetap dijalankan dan sesuai dengan jalur hingga tahun ini.

Data Neraca Perdagangan Aussie

Seperti yang diberitakan akhir-akhir ini terkait pelemahan mata uang Australia ternyata juga didukung dengan fakta penurunan neraca perdagangan yang ada. Neraca perdagangan Aussie menuju 223 juta AUD yang menandakan bahwa terjadi peningkatan tingkat impor sebanyak 2% yang disusul dengan ekspor sebanyak 1%.

Hal tersebut tidak sesuai dengan prediksi pelaku pasar global yang telah memprediksikan bahwa neraca berada di sekitaran angka 5.950 juta lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 5.800 juta AUD. Tingkat konsumsi juga dilaporkan mengalami penurunan sebanyak 0,5% dari bulan sebelumnya.

Dengan tingkat belanja konsumen yang rendah dan juga perdagangan yang merosot, menandakan bahwa perekonomian berada pada kondisi kurang baik. Posisi dolar ini menurun seputar pembicaraan RBA. Hal ini dikarenakan bank central yang membutuhkan waktu lama untuk fokus dan lebih meyakini dalam mengambil keputusan akibat corona virus.

Penurunan mata uang Aussie ini juga tak semata-mata sendiri karena terdapat beberapa mata uang Negara lainnya yang juga mengalami penurunan sebagai dampak corona virus. Namun, peluang dolar Australia menguat juga masih terbuka lebar jika nantinya bank investasi menurunkan harapan pemotongan suku bunga yang mereka miliki.

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama