Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Harga Minyak Melambung Tinggi, Pertamina Lakukan Efisiensi

Harga Minyak Melambung Tinggi, Pertamina Lakukan Efisiensi

by Didimax Team

Kabar perdagangan dunia hadir dari harga minyak dunia mentah dunia yang sedang melambung tinggi. Tentunya kondisi ini mempengaruhi beberapa hal yang berkaitan dengan perdagangan di sektor perminyakan.

Hal ini juga berpengaruh ke berbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Salah satunya adalah PT Pertamina (Persero) yang mulai memperkuat strategi keuangan dan upaya operasional terkait hal ini.

Tujuannya adalah untuk melakukan peningkatan efisiensi di berbagai bisnis. Hal ini menyangkut holding ataupun subholding dari hulu hingga pengolahannya sampai hilir yang menggunakan bahan dasar minyak.

Upaya perbaikan ini dilakukan untuk melakukan pengiritan penggunaan minyak di seluruh dunia. Karena hal itulah Indonesia berperan aktif untuk mengatasi kekurangan minyak yang terjadi di Indonesia.

Pertamina melakukan strategi tersebut sudah sejak tahun 2021 untuk mendapatkan hasil maksimal. Karena hal itulah perlu adanya pemanfaatan lebih lanjut agar bisa mengatasi kekurangan minyak.

 

Harga Minyak Melambung Tinggi

Berdasarkan strategi yang dilakukan oleh Pertamina sejak tahun 2021, telah berhasil melakukan optimalisasi biaya sebesar 2,21 miliar dolar AS. Hasil tersebut diperoleh dari beberapa program yang dilakukan.

Pertama diperoleh dari program penghematan biaya atau cost saving yang mencapai 1,36 miliar dolar AS. Selain itu, juga dikarenakan adanya penghindaran biaya atau cost avoidance sebesar 356 juta dolar AS.

Sumber lainnya adalah dari tambahan pendapatan atau revenue growth yang mencapai 495 juta dolar AS. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Emma Sri Martini yang merupakan Direktur Keuangan Pertamina.

Sri Martini menjelaskan terkait Pertamina yang mengembangkan berbagai kebijakan. Selain itu, adanya berbagai strategi bisnis yang bisa dilihat dari sisi keuangan ataupun operasional yang memperlancar.

Tujuannya sebagai upaya dalam menghadapi tantangan harga minyak dunia yang melonjak. Sementara itu, dilihat dari sisi finansial Pertamina juga mulai menerapkan program optimalisasi biaya di seluruh Pertamina Group.

Optimalisasi biaya ini menyangkut penghematan biaya, penghindaran biaya dan peningkatan pendapatan. Adanya parallel dengan upaya penghematan maka Pertamina menjalankan program lindung nilai yang bertujuan untuk manajemen risiko pasar.

Tidak hanya itu, Pertamina juga melakukan sentralisasi pengadaan serta prioritas belanja modal. Tidak lupa juga melakukan manajemen aset serta liabilitas untuk melakukan penurunan biaya ataupun beban bunga.

Sri Martini juga mengungkapkan bahwa mereka sudah berupaya untuk melakukan optimalisasi seluruh biaya dari aspek finansial perusahaan. Tujuan utamanya adalah untuk menekan biaya dan memprioritaskan proyek dengan hasil cepat.

 

Pertamina Lakukan Strategi  

Tidak hanya itu, Pertamina juga melakukan cara lain untuk mengefisienkan biaya operasional. Salah satunya adalah dengan meningkatkan pendapatan yang dijalankan oleh anak usaha dengan enam subholding.

Sedangkan, dari bisnis bagian hulu Pertamina terus melakukan peningkatan produksi serta lifting Migas. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan momen naiknya harga minyak dengan peningkatan mencapai empat persen dan tiga persen.

Kinerja bagus tersebut paling banyak disumbangkan oleh Blok Rokan dan aset luar negeri. Selain itu, adanya upaya konsisten dalam menjaga tingkat produksi dengan adanya pengeboran sumur dan penemuan sumber daya.

Selama tahun 2021, Pertamina berhasil melakukan pengeboran sebanyak 12 sumur eksplorasi dan 350 sumur eksploitasi. Selain itu, temuan cadangan juga sudah mencapai 486,70 MMBOE dan tambahan cadangan sebesar 623,47 MMBOE.

Sementara itu, dari bagian pengolahan dan petrokimia Pertamina menerapkan strategi optimasi crude and product. Hal ini memberikan kontribusi pada peningkatan yield of value produk mencapai tiga persen.

Strategi yang dilakukan tersebut dilakukan dengan pemilihan dan substitusi ekonomis minyak mentah serta memaksimalkan adanya high valuable product serta high spreads dalam waktu yang bersamaan.

Tidak hanya itu, dari segi transportasi dan logistik Pertamina mengoptimalkan load faktor dalam mencapai pendapatan dan efisiensi biaya. Selain itu juga adanya peningkatan volume perdagangan dan transportasi gas.

Sri Martini menyebutkan kinerjanya di bagian hilir didukung oleh pemerintah hingga mencapai 4 miliar dolar AS. Serta adanya pembayaran atas kompensasi 2018 dan 2019 yang mencapai 1,7 miliar dolar AS.

Menurut Sri Martini bahwa dukungan pemerintah berlanjut hingga tahun 2022. Hal ini berkaitan dengan penyesuaian harga Pertamax hingga adanya apresiasi Pertamina terhadap dukungan tersebut dalam mendukung efisiensi Pertamina.

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama