Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Dolar Sedikit Menguat, Mata Uang Asia Turun Akibat Impor China Melemah

Dolar Sedikit Menguat, Mata Uang Asia Turun Akibat Impor China Melemah

by Didimax Team

Poundsterling di Hari Selasa (9/5/2023) masih menguat sebelum rapat penentuan kebijakan oleh Bank of England (BoE) pekan ini. Sementara itu dolar AS juga berhasil naik sedikit pada awal perdagangan Eropa.

Tepatnya pukul 13.55 WIB, indeks dolar naik 0,1% menjadi $101,183, mengukur greedback terhadap beberapa mata uang lain. Kenaikan tersebut belum jauh berbeda dari posisi terendah yang dicapainya akhir-akhir ini.

Sementara itu pada waktu bersamaan mata uang Asia justru mayoritas alami penurunan. Hal tersebut karena data impor China lebih lemah. Sedangkan kenaikan dolar menguat jelang data inflasi AS minggu ini.

 

Banyak Isyarat Ekonomi AS Jelang Data Inflasi Minggu Ini, Dolar Bisa Naik

Greenback sendiri berhasil naik setelah payroll dirilis dan memperlihatkan hasil lebih baik. Hal ini menjadi indikasi bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat pada bulan April lalu.

Hanya saja range perdagangan ketat, dikarenakan trader masih menunggu data inflasi April sampai Rabu. Selain itu ekonom perkirakan indeks harga konsumen inti, belum termasuk harga bahan bakar volatile dan makanan.

Perkiraannya indeks harga konsumen inti tersebut adalah akan naik 5,5% pada basis antar tahunnya. Menurun 0,1%, dimana bulan sebelumnya indeks harga konsumen inti terdapat kenaikan 5,6%.

Pekan sebelumnya, Bank Sentral AS menentukan kenaikan untuk kesepuluh kalinya. Bank Sentral memberi indikasi juga apabila mereka kemungkinan menghentikan kampanye pengetatan di bulan Juni, tentunya akan bergantung data ekonomi masuk.

Analisis di ING menyampaikan dalam catatannya bahwa, “Namun melihat gambaran besarnya, kondisi kredit AS yang ketat akan menjadikan kondisi memburuk”. Mengacu ke memperburuknya disinflasi AS 2023 serta proses perlambatannya.

“Kami memperkirakan ada banyak penjual dolar, apabila melihat reli 1% - 2% selama beberapa pekan ke depan.” Tertulis juga dalam catatan analisis di ING tersebut.

GBP/USD sendiri diperdagangkan 1,2633 dan naik sebesar 0,1%. Level ini berada tepat di bawah harga tertingginya, yaitu 1,2668 pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi jelang rapat kebijakan Bank Sentral

Sementara itu EUR/USD pada level 1,0999, alami penurunan 0,1%, masih mendekati level tertinggi tahun ini. Walaupun kenaikan suku bunganya sudah diperlambat oleh European Central Bank pekan lalu.

Impor China Mengecewakan, Mayoritas Mata Uang Asia Melemah

Dolar mampu naik perlahan, sebaliknya mayoritas mata uang Asia justru alami penurunan pada hari Selasa (09/05/2022). Hal itu terjadi akibat data impor China menunjukkan penurunan yang lebih besar.

Setelah data impor menunjukkan penurunan lebih besar di bulan April, Yuan China Alami penurunan sebesar 0,1%. Dikarenakan berdasarkan data tersebut, permintaan lokal masih redup walaupun sudah pembukaan pasca COVID-19.

Ekspor juga sudah tumbuh membaik, tetapi angkanya masih berekspansi dengan tingkat lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sinyal pemulihan ekonomi yang beragam di China menunjukkan sektor manufactural lokal tengah berjuang.

Lemahnya permintaan China ini merupakan hal buruk juga untuk berbagai negara dengan eksposur perdagangan besar ke negara tersebut. Karena hal ini, beberapa mata uang Asia alami pelemahan.

Termasuk rupiah Indonesia dan peso Filipina yang melemah masing-masing 0,4% dan 0,6%. Termasuk juga rupee India menurun 0,2% sedangkan ringgit Malaysia alami penurunan sebesar 0,1%.

Sedangkan yen Jepang lebelnya masih datar, sebelumnya terjun dari lebel tertinggi dua bulan pada awal Mei lalu. Kazuo Uedo, Gubernur Bank of Japan memperjelas apabila kebijakan moneter mungkin tetap dovish.

Pernyataan tersebut menjadi penanda juga bahwa hanya sedikit dukungan untuk yen. Pendapatan upah serta pengeluaran rumah tangganya melambat juga awal Maret kemarin. Data mengindikasikan masih ada tekanan di ekonomi Jepang.

Permintaan safe-haven mata uang Jepang terpukul setelah meredanya kekhawatiran mengenai krisis perbankan AS. Hasil Survey Federal Reserve juga menunjukkan banyak bank baru yang runtuh mengakibatkan aktivitas pinjaman terbatas.

Janet Yellen, Menteri Keuangan AS juga menyebutkan apabila deposito banyak bank AS kebanyakan sudah stabil, khusus dari gejolak awal tahun. Hal tersebut menjadikan dolar merangkak naik di perdagangan Asia.

Hari Selasa (9/5/2023) pukul 13.37 WIB level USD/CHF naik 0,01% dan GBP/USD naiknya 0,,07%. Sedangkan GBP/JPY, EUR/JPY, dan EUR/USD masih-masing alami penurunan sebesar 0,13%, 0,24%, serta 0,04%. 

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama