Berita

Rumah Pusat Edukasi Data Market Berita Perdagangan Dolar AS Mulai Meningkat Pengaruhi Inflasi Inggris

Dolar AS Mulai Meningkat Pengaruhi Inflasi Inggris

by Didimax Team

Kabar terbaru hadir dari mata uang utama dunia yaitu dolar AS yang kini lanjut naik pada perdagangan kemarin petang. Kondisi ini terjadi sebelum pernyataan dari Jerome Powell keluar.

Ketua The Fed yaitu Jerome Powell diperkirakan akan berbicara tegas terkait dengan inflasi. Hal ini diperkirakan akan disampaikan dalam kesaksiannya pada kongres AS yang akan segera berlangsung.

Selain itu, poundsterling jatuh setelah rilisnya data inflasi yang tinggi. Pada sore hari kemarin dolar AS mengukur greenback terhadap beberapa mata uang lainnya yang membuatnya terus menguat.

Dolar AS menguat dan diperdagangkan hingga 0,4 persen yang mencapai angka 104,650. Fokus utama pada hari kemarin adalah awal dari testimoni dua hari oleh Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell.

Powell akan melakukan testimoni dengan para investor yang mencari petunjuk lanjutan. Hal ini terkait dengan kenaikan suku bunga yang mencapai 75 basis poin pada pertemuan Fed bulan Juli.

 

Dolar AS Menguat

Terkait kondisi ini analis ING menyampaikan beberapa hal dalam catatannya. Menurutnya sentimen besar dolar selanjutnya terletak saat Ketua Fed Jerome Powell memberikan kesaksian terhadap kebijakan moneter semi tahunan.

Hal ini akan dilakukan pada senat AS yang akan segera dilangsungkan di negara tersebut. Hal ini dilihat berdasarkan pertemuan terbaru yang dilakukan oleh FOMC yang seharusnya memberikan pengaruh positif.

Analis tersebut juga menambahkan bahwa kondisi ini merupakan pertanda bahwa penurunan dolar terbatas. Selain itu, Fed juga sudah siap untuk memberikan kenaikan suku bunga besar pada pertemuan bulan Juli.

Dimana, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin memberikan pernyataan pada hari Selasa terkait pandangan Powell. Menurutnya, pandangan Powell memberikan potensi besar bank sentral AS yang akan segera dilakukan.

Hal ini berkaitan dengan penaikan suku bunga yang mencapai 50 hingga 75 basis poin pada bulan Juli. Menurut Barkin hal yang dilakukan oleh Powell adalah sebuat tindakan yang masuk akal.

Selain itu, faktor lain yang membuat dolar naik adalah berita dari Presiden Amerika Serikat yaitu Biden. Biden mempertimbangkan terkait pembebasan pajak sementara untuk bensin di Amerika Serikat.

Tidak hanya itu, pemerintah AS juga akan menggunakan kelonggaran fiskal. Hal ini dilakukan untuk membantu meringankan beban konsumen yang terkena akibat adanya harga energi yang melonjak tinggi.

Hal ini juga diperjelas oleh ING terkait dengan kebijakan fiskal yang akan dilakukan. Menurutnya, kebijakan fiskal yang lebih ringan dapat meringankan dan memberikan ruang bagi para gubernur bank sentral.

Kondisi Nilai Dolar AS

Kondisi dolar AS ini membaut kebijakan fiskal yang lebih longgar dijadikan sebagai salah satu solusinya. Hal ini bertujuan untuk menangani masalah inflasi dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Tidak hanya itu, dengan adanya kebijakan moneter dan fiskal yang longgar memberikan dampak untuk hal lainnya. Salah satunya adalah berdampak pada mata uang dan tentunya hal ini menjadi kabar baik.

Kondisi ini membuat EUR/USD turun hingga 5 persen dan berada di level 1,0473. Sementara itu, AUD/USD juga jatuh sebesar 1,1 persen yang membuatnya harus bertahan di angka 0,6895.

Mata uang lainnya adalah USD/JPY yang ikut jatuh hingga 0,2 persen dan berada pada level 136,31. Level ini adalah level tertinggi dan Yen mendapatkan tekanan yang cukup tinggi.

Tekanan muncul dari adanya kesenjangan yang semakin luas antara imbal hasil obligasi Jepang dengan Treasuries AS. Hal ini juga merupakan hasil dari adanya pertemuan kebijakan terakhir dari Bank of Japan.

Kebijakan tersebut menunjukkan kekhawatiran para anggota dewan terhadap penurunan drastis Yen. Akan tetapi, para anggota dewan juga masih menekankan bahwa program stimulus BOJ masih tetap mendukung perekonomian.

Sementara itu, GBP/USD juga ikut melemah sebesar 0,7 persen di angka 1,2191 setelah adanya inflasi Inggris. Angka tersebut meningkat menuju level tertinggi 40 tahun yang mencapai 9,1 persen bulan Mei.

Hal tersebut terjadi karena adanya lonjakan biaya untuk keperluan makanan dan energi. Sementara itu, Bank of England juga mulai menaikkan suku bunga selama lima pertemuan berturut-turut.

Akan tetapi, hal tersebut belum mampu membantu untuk meredam gejolak inflasi yang terjadi. Sementara itu, bank sentral juga memperkirakan bahwa laju inflasi mencapai level tertinggi di bulan Oktober.

KOMENTAR DI SITUS

FACEBOOK

Tampilkan komentar yang lebih lama